Jamstreet Kenalkan Ekosistem Transportasi Digital, Marketplace dan Koperasi Desa di Banten

OH GITU BANTEN - Platform transportasi online Jamstreet memperkenalkan konsep layanan berbasis digital yang menggabungkan transportasi, marketplace, koperasi desa, serta sistem poin berbasis aset digital untuk meningkatkan kesejahteraan mitra pengemudi dan pengguna.
Dalam pemaparannya, pihak Jamstreet menyebutkan perbedaan utama platform tersebut dibanding aplikasi transportasi online lainnya terletak pada skema pembagian keuntungan yang lebih besar kepada mitra driver.
Intinya:
- Jamstreet memperkenalkan layanan yang menggabungkan transportasi, marketplace, koperasi desa, dan sistem poin digital.
- Perusahaan menerapkan potongan sebesar 5 persen untuk mitra driver.
- Pengguna memperoleh reward berupa poin digital dari setiap transaksi dalam aplikasi.
- Jamstreet mengembangkan koperasi desa yang terhubung dengan marketplace dalam ekosistem digitalnya.
- Perusahaan mengklaim memiliki hampir 20 ribu pengguna, sekitar 1.000 pengemudi aktif, dan 150 hingga 200 merchant.
Skema Bagi Hasil dan Reward Pengguna
“Potongan yang kami terapkan sebesar 5 persen. Bahkan untuk wilayah Batam ada program khusus dengan biaya transaksi tertentu yang sangat ringan melalui e-wallet kami,” ujar perwakilan Jamstrit.
Selain itu, perusahaan juga mengembalikan sebagian nilai transaksi kepada pengguna dalam bentuk poin digital. Setiap transaksi yang terjadi di dalam aplikasi akan menghasilkan reward yang dapat dimanfaatkan oleh pengguna dalam ekosistem yang dibangun perusahaan.
Menurut pihak perusahaan, konsep tersebut dirancang dengan pendekatan gamification untuk meningkatkan interaksi antara pelanggan dan pengemudi, sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi seluruh pengguna.
Pengembangan Koperasi Desa dan Marketplace
Tidak hanya berfokus pada layanan transportasi, Jamstreet juga mengembangkan ekosistem digital melalui pembentukan koperasi di tingkat desa. Program ini bertujuan membantu masyarakat mengembangkan usaha lokal dengan dukungan akses teknologi dan pembiayaan.
“Kami membangun koperasi di kampung-kampung untuk memberikan sarana finansial dan dukungan usaha bagi masyarakat desa agar potensi ekonomi yang ada bisa berkembang,” jelasnya.
Koperasi tersebut nantinya akan terhubung dengan marketplace yang menjadi bagian dari ekosistem Jamstreet. Melalui sistem tersebut, transaksi masyarakat diharapkan dapat lebih banyak mengakomodasi produk dan usaha lokal.
Literasi Digital Jadi Tantangan
Perusahaan juga menyoroti masih rendahnya tingkat literasi digital di sejumlah daerah, termasuk pemahaman masyarakat terhadap teknologi baru seperti blockchain, kecerdasan buatan (AI), dan aset digital.
Menurut mereka, edukasi menjadi tantangan utama dalam memperkenalkan teknologi kepada masyarakat. Karena itu, Jamstreet mengaku aktif menggelar program literasi digital di sekolah, kampus, hingga komunitas masyarakat.
“Dalam beberapa bulan terakhir kami sangat intens melakukan edukasi agar masyarakat memahami perkembangan teknologi digital dan peluang yang dapat dimanfaatkan,” katanya.
Pihak perusahaan menilai Indonesia masih menghadapi tantangan ketertinggalan teknologi dibanding negara-negara maju. Oleh sebab itu, peningkatan literasi digital dianggap menjadi langkah penting agar masyarakat dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi global.
Transaksi Tetap Menggunakan Rupiah
Terkait penggunaan aset digital, Jamstreet menegaskan seluruh transaksi dalam aplikasinya tetap menggunakan rupiah. Sementara poin atau token utilitas yang diberikan hanya berfungsi sebagai bagian dari ekosistem aplikasi dan tidak menggantikan fungsi mata uang resmi.
Jumlah Pengguna dan Pengembangan Layanan
Saat ini, Jamstreet mengklaim telah beroperasi selama sekitar empat hingga lima bulan. Perusahaan mencatat hampir 20 ribu pengguna telah terdaftar dalam sistem, dengan sekitar 1.000 pengemudi aktif serta 150 hingga 200 merchant yang telah terintegrasi dalam platform.
Hingga kini, perusahaan terus melakukan pengembangan layanan dan memperluas jaringan merchant sebagai bagian dari penguatan ekosistem digital yang dibangun.
Penulis: Wandi | Editor: Ibrahim